Pagi Hari Membahas Ragi

Sudah menjelang siang sebenarnya tapi bagi saya yang biasa tidur lagi sehabis subuhan, jam delapan ke bawah adalah masih pagi. Untungnya semester ini saya dapat kelas pagi jadi terlatih untuk bangun awal dan walahasil di weekend pun saya tetap sregep ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ. Kalimat pembukanya tidak jelas. Abaikan. ๐Ÿ˜‚

Entak sejak kapan di Jogja demam healthy food, pastinya beberapa teman dan sahabat saya pun terjangkit virus yang serupa. Sebuah langkah yang baik sebenarnya. Sangat baik malahan. Hanya saja bagi saya pribadi terkadang hal itu malah secara tidak langsung membentuk sebuah kubu. 

Advertisements

Sebuah Kemenangan Besar

Lebaran hari ketiga. Tepatnya 08 Juli 2016. Hari Jum’at. Dan saya baru ingat untuk ngetik lagi karena stok bahan tulisan yang menumpuk selama hampir empat bulan sejak terakhir saya ngetik di sini.

Layaknya orang kebanyakan, sayapun memanfaatkan momen fitri ini sebagai kambing hitam permohonan maaf atas ketikan yang mungkin menyinggung sekaligus alasan kemalasan saya dalam berkata-kata. Tetapi yakinlah jika permohonan maaf ini sejujurnya murni dari lubuk hati. Percayalah. Jadi saya mohon… maafkanlah.

Untuk kedepan jika memang dirasa ada yang kurang pas atau bahkan menyinggung karena keterbatasan saya dalam berkata-kata ataupun menilai rasa, yakinlah itu hanya sebuah perspektif yang sangat subyektif dari saya.

Terimakasih.

Tabik.

^_^

Balada Serabi ala Jogja

Sehabis nulis tentang Serabi Kocor saya malah jadi sentimentil sendiri. Mengenang Mbah Rambat yang telaten, baik, dan njawani membuat saya berkaca sekaligus mikir. Bagi saya Mbah Rambat adalah legenda kuliner jogja meski bagi beberapa orang beliau hanyalah pedagang serabi kocor biasa. Sedih memang melihat fenomena kuliner di Jogja belakangan ini. Banyak bermunculan pangan trendi yang kekianian dan bagi saya kurang ada “soul” nya. Di sisi lain sangat sedikit atau bahkan tidak ada Mbah Rambat – Mbah Rambat lain yang dengan telaten nguri-uri kebhinekaan pangan kita.
Ah…tapi siapa saya dan apa yang bisa saya lakukan? Saya hanya tukang ketik yang hobi mengomentari tanpa tindakan langsungnuntuk merubahnitu. Maaf.

Inovasi Slaptick

Dini hari tadi saya baru sampai rumah. Hampir semalaman saya ngobrol dengan soorang teman pemegang sekaligus yang dipasrahi resep Gudeng Manggar. Sepertinya beliau masih keturunan langsung Ki Ageng Mangir.
Sejenak lupakan mengenai Gudeg Manggar yang tidak akan saya bahas kali ini. Lagi-lagi saya terusik dengan tema obrolan semalam mengenai inovasi dan berbagai fenomena yang terjadi di dunia kuliner beberapa waktu terakhir.

Tersenyum saya ketika melihat gerobak ronde yang setiap malam mangkal di depan RSUP dr. Sardjito, pasalnya di gerobak tertulis “WEDANG RONDE RASA JAHE”.
Adalah Pak yang menjadi dalang senyum saya barusan. Beliau salah satu figur kesederhanaan bagi saya, yang melestarilan salah satu icon kuliner nusantara. Lepas dari masalah rasa, sayapun bertanya dalam hati. Mungkinkah remaja masa kini memiliki pemahaman bahwa ronde itu pasti rasa jahe. Atau jangan-jangan ada yang beranggapan bahwa itu inovasi kuliner kekinian yang wajib difoto dan diupload ke sosial media untuk mempertegas eksistensi diri tanpa memaknai apa esensi dari yang dikonsumsi.
Ah, lagi-lagi saya terlalu gacor berasumsi.

Semacam Obrolan yang Embuh

Sudah Minggu dini hari nyaris setengah tiga. Dan saya kembali kancilen ๐Ÿ˜ช๐Ÿ˜ช. Secara samar masih tersisa kasak-kusuk tadi malam dengan seorang pe-review kuliner asal Jogja di lantai dua sebuah kafe langganan. Kita yang baru bertemu sekali bisa langsung akrab dan nyerocos macem-macem tentang makanan. Mungkin saya terlihat sangat cangkeman dan sok tau bagi beliau. Tetapi, di sana tadi saya banyak belajar termasuk ada sedikit kelegaan menyoal tulisan saya tentang Terusik Trendi.

Terusik Trendi

Jikapun karena ini saya dianggap sok atau istilah lain yang mungkin mewakili ya monggo saja, karena mungkin itu adanya. Tetapi yakini juga bahwa saya mengetik ini tulus karena agak gelisah melihat fenomena yang akhir-akhir ini menyeruak.

Sebenarnya ada apa dengan trendi?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan arti trendi dijabarkan demikian “trenยทdi /trรฉndi/ a bergaya mutakhir; memiliki tren; bergaya modern; mengetren”.

Lalu apa hubungan antara trendi, fenomena hari ini, dan kegelisahan hati? ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ

Jadi begini…
Coba perhatikan dengan seksama sekeliling kita khususnya bidang kuliner. Ada banyak sekali jenis makanan dan minuman baru hadir hasil inovasi dan olah kreatifitas. Tetapi entah kenapa bagi saya yang bukan siapa-siapa ini ada semacam kekosongan dalam proses berkreatif tersebut. Sebuah perasaan yang kurang dapat saya definisikan secara lugas. Entah mengapa.